Penyakit Ispa Paling Banyak Diserang Penyintas

Penyakit Ispa Paling Banyak Diserang Penyintas

MAMUJU, Deskriptif.co.id – Tiga pekan di pengungsian, warga yang terkena penyakit semakin bertambah.

Data dari dinas kesehatan Provinsi Sulawesi Barat menyebutkan hingga Rabu, 10 Februari sebanyak 4.048 warga terkena penyakit. Terdiri dari, di Kabupaten Mamuju 2.669 orang dan 1.379 orang di Kabupaten Majene.

Dari jumlah itu, ISPA atau Infeksi Sistem Pernafasan Akut menduduki peringkat tertinggi. Dengan mencapai total 1.110 penderita. Terdiri dari, 720 orang di Kabupaten Mamuju dan 390 orang di Kabupaten Majene.

“Ispa memang penyakit yang paling banyak, di Mamuju Ispa tertinggi, begitu juga di Majene. Lima hari terakhir di mamuju meningkat 115 orang dan majene meningkat 29 orang,” kata Pengelola Data Bidang Data dan Informasi Pos Komando Transisi Darurat Gaffaf, Kamis 11 Februari 2021.

Lanjutnya, untuk korban luka berat maupun ringan akibat gempa sebanyak 10.354 orang. Dengan rincian luka berat 378 orang, terdiri dari 209 orang di kabupaten mamuju dan 69 orang di Kabupaten Majene.

“Sementara Luka ringan tercatat 10.076 orang, 7.349 orang luka ringan di mamuju dan 2.727 di Kabupaten Majene. Sementara korban meninggal dunia sebanyak 106 orang, 96 di mamuju dan 10 di Majene,” tambahnya.

Selain ISPA, penyakit dominan yang menyerang pengungsi yakni hipertensi, penyakit kulit, diare, demam tulang, influenza, maag , nyeri otot, gangguan pencernaan, sakit kepala, demam, penyakit kulit dan batuk.

Sedangkan, Kabid Kesehatan masyarakat Dinkes Sulbar, dr. Ihwan memaparkan, ISPA memang selalu menjadi penyakit dengan jumlah tertinggi, meskipun dalam keadaan biasa atau normal.

“Jumlahnya meningkat di pengungsian itu karena factor kecapeaan, apalagi dalam musim panca roba seperti sekarang. Dalam arti hujan lalu panas kemudian hujan lagi,” ucap dr. Ikhwan.

Dia juga mengungkapkan bahwa banyaknya warga terserang di pengungsian, ini sangat berpotensi meningkatkan penyebaran Covid 19. Apalagi, semenjak setelah gempa, disiplin warga di pengungsian semakin berkurang.

“Interaksi juga semakin dekat dan bahkan makin sering berkerumun. Hal itu ditambah dengan banyaknya orang atau relawan ke Sulbar yang sangat terbuka untuk menjadi kanal dalam penyeberan covid,” tutupnya.(frd/hn)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.